Ada pertanyaan yang selalu menggoda untuk ku cari jawabnya ..
'Mengapa kita bertemu?'
Hingga semua terjadi begitu saja ..
Indah ini .. dan perih ini ..
Menyatu dalam ramuan racun yang merasuk terlalu dalam ..
Masih teringat pertemuan pertama yang biasa saja ..
Kisah itu tak kan laku diangkat jadi skenario drama komedi romantis ..
Tak pernah bertanya nama .. hanya tahu saja dari cerita kawan-kawan saat waktu senggang ..
Pun pertemuan ke dua, ke tiga, ke sepuluh, ke lima belas, ke tiga puluh delapan ..
Hanya sekedar tahu nama dan ikut nimbrung dengan teman mu atau teman ku saat makan siang ..
Hingga suatu sore yang tak begitu ramai .. handphone ku berbunyi ..
Nomor asing .. ku jawab .. suara yang tak asing ..
Sekedar menanyakan teman ..
sebelum kau memutus pembicaraan, aku bertanya ..
'Dapat nomor ku dari mana?'
Ada jeda ..
'Aku usaha ..' jawabmu.
Biasa saja. sangat biasa..
Waktu berlari terlalu kencang ..
Dan aku terlalu sibuk untuk menyadari hati ini menjadi kanvas untuk mu..
Membiarkan kuas mu melukiskan setiap warna .. tanpa sengaja ..
Dan aku terlalu sibuk untuk menyadari hati ini meluap menjadi lautan ..
Membiarkan mu berenang-renang tak beraturan ..
Pada malam ke sekian, aku tertambat di satu pesta ..
Semua orang menari dan tertawa ..
Aku datang terlambat dan meringis minta maaf ..
Mereka memaafkan dan menarikku dalam gelombang manusia ..
Musik berhentak .. semua bersorak ..
Gelas berdenting .. asap mengepul ..
Dalam remang cahaya kuning pucat, sebuah genggaman hangat membuatku menoleh..
Dan mata kita bertemu .. tepat saat kau mengecup tangan ku ..
Senyum mu terbingkai sempurna .. dan berlalu berbaur lautan manusia..
Biasa saja .. sangat biasa..
Hujan sesekali menghiasi .. membawa tubuh mu yang basah dan rambut acak-acakan tak karuan..
Kibas kanan kibas kiri .. percikan-percikan kristal gerimis yang kemudian menyusup di hati..
Aku meringis lagi .. ternyata perih .. ternyata tak seindah yang orang ceritakan ..
Sapuan warna mu di kanvas ku .. kristal gerimis di rambut mu .. bersama senyummu tenggelam dalam di lautan ku ..
Mengapa justru perih rasanya ..
Di bawah purnama bulan ke enam ..
Jalanan sepi membawa langkah kita menyusur pelan ..
'Terima kasih untuk malam ini,' kau tersenyum.
'Terima kasih untuk apa? Aku tak melakukan apa-apa untuk mu,' aku bingung.
'Terima kasih menemaniku menyusuri jalan sepi ini'
Ada sayatan lagi .. kali ini aku tidak meringis .. tapi menangis ..
Kini bukan kristal gerimis di rambut mu .. tapi kristal air bening di pipi ku..
'Mengapa kita bertemu..?' lirih aku berbisik.. hingga hanya hatiku yang mampu mendengar.
Di persimpangan kita berhenti.. di sinilah kita akan berpisah malam ini..
Aku ke kanan .. Kau ke kiri ..
'Sampai jumpa ..' Ku ucap salam perpisahan malam ini.. Kau membalas dengan lambaian tangan..
Langkah kita terpisah .. Punggung kita saling bertatap mesra .. namun tak kuasa mendekat ..
Langkah ke lima belas ku terusik oleh bunyi handphone .. sms .. dari mu ..
'Menangislah .. aku pun sering menangisi pertemuan kita ..'
Malam ini aku tahu .. aku akan menjadi juragan kristal .. kristal bening di pipi ku ..
Terlalu Merindu
Minggu, 20 Juni 2010
Malam ke sekian setelah kau pergi ..
tak seberapa memang ..
hanya sayatan yang tak kunjung kering ..
memaknai setiap bayang mu yang juga tak kunjung pergi ..
Apa ada artinya untuk mu ..?
ketika ku katakan aku hilang kendali ..
tak mampu lagi berlari, karena semua bayangmu menari ..
Apa kau akan mengerti ..
jika ku katakan rindu setengah mati..
tak banyak .. tak lebih ..
hanya ingin duduk di samping mu berteman senja ..
berbagi rasa lama dan rindu yang mendera ..
Mampirlah .. sebentar saja ..
akan ku buatkan secangkir teh hangat beraroma bunga ..
temani aku tertawa .. temani aku bercerita ..
Mampirlah .. sebentar saja ..
bilik kecil ini rindu .. hati ini sendu ..
berharap kau datang dan bawa senyum mu ..
tak seberapa memang ..
hanya sayatan yang tak kunjung kering ..
memaknai setiap bayang mu yang juga tak kunjung pergi ..
Apa ada artinya untuk mu ..?
ketika ku katakan aku hilang kendali ..
tak mampu lagi berlari, karena semua bayangmu menari ..
Apa kau akan mengerti ..
jika ku katakan rindu setengah mati..
tak banyak .. tak lebih ..
hanya ingin duduk di samping mu berteman senja ..
berbagi rasa lama dan rindu yang mendera ..
Mampirlah .. sebentar saja ..
akan ku buatkan secangkir teh hangat beraroma bunga ..
temani aku tertawa .. temani aku bercerita ..
Mampirlah .. sebentar saja ..
bilik kecil ini rindu .. hati ini sendu ..
berharap kau datang dan bawa senyum mu ..
(19 Juni 2010 - pulang dari pesta bujang Jeng Srikandi)
-Ini pesenan teman SMA, si P 'Benggol' Y ..
Pesennya udah berbulan-bulan lalu .. tapi inspirasi tak kunjung datang..
meskipun telat ga papa ya 'Nggol .. semoga membantu .. hihi .. ^_^v
Senandung
Minggu, 06 Juni 2010
Keindahan ini mungkin abadi..
Bersemayam dalam palung hati yang tak pernah kau sentuh
Tak kan ada penyesalan akan indah ini
Karena tiap jengkal nafas mu
Adalah melodi bagi sunyi ku
Maka teruslah bersenandung, Sayang
Temani sunyi ini..
Dalam dunia yang hanya ada kau.. dan aku
-6Feb ’04-
Bersemayam dalam palung hati yang tak pernah kau sentuh
Tak kan ada penyesalan akan indah ini
Karena tiap jengkal nafas mu
Adalah melodi bagi sunyi ku
Maka teruslah bersenandung, Sayang
Temani sunyi ini..
Dalam dunia yang hanya ada kau.. dan aku
-6Feb ’04-
Maaf
Sabtu, 05 Juni 2010
'Kau kecewa padaku?' pertanyaan pertama mu ketika aku baru datang dengan kelelahan.
Aku hanya menatapmu. Diam.
Entah apa yang terjadi sebelum aku datang.
Ada gelas pecah di bawah meja ..
Ada makanan tumpah di sofa ..
Ada bingkai foto yang miring dari posisi semula ..
'Aku tahu aku mungkin sedikit kelewatan. Sedikit egois. Tapi aku punya alasan ..' kau kembali berargumen.
Aku berjalan ke arah bingkai foto yang miring .. foto kami .. saat ulang tahun ku tahun kemarin.
Tak berniat ku benarkan posisinya .. Mungkin kemiringan ini bisa meluruskan cara pandang mu ..
'Aku banyak pekerjaan, Sayang .. Dari dulu kau tahu pekerjaan ku dan kau bisa memaklumi kan?'
Seperti kau memaksaku setuju ..
Ku langkahkan kaki ku menuju wastafel .. cuci tangan .. dan ku basuh wajah kusam ku ..
'Kau sudah makan?'
Aku hanya menggeleng.
'Rendangnya gosong ketika ku hangatkan,' kau menunjuk wajan kecil yang berisi irisan daging hitam pekat.
'Mie instan terakhir yang tersisa sudah ku makan,'
Aku masih diam sambil membereskan ruang kecil yang bagai medan perang itu.
Hening mengisi sesak .. Detak jarum jam semakin keras terdengar ..
Kau memilih bermain asap .. Tembakau di jari mu masih separuh ..
Biasanya ini akan bertahan lama .. sepuluh menit .. lima belas .. dua puluh .. setengah jam ..
'Kau masih marah?' keheningan pecah oleh suara serak mu.
Aku tak sanggup menjawab .. ada yang menekan dadaku begitu keras ..
'Sudah ku jelaskan semua, Sayang .. dan aku jujur,'
Aku masih diam.
'Oke .. kalau kamu sudah mau bicara, kamu tahu di mana bisa menemui ku,'
Kau beranjak ke kamar. Menutup pintu perlahan.
Benar - benar hening sekarang.
Jam dinding pun seperti kehabisan baterainya ..
Ku tutup mata .. meresapi kelam hitam dan kesabaran yang tinggal sehelai rambut saja ..
Kilatan peristiwa menari ..
Segala diam ku .. segala kecewaku .. tertata rapi seperti perpustakaan besar berisi tiap lembar peristiwa ..
Perlahan ku buka mata .. yang pertama ku lihat adalah vas bunga ..
Berisi bunga kering yang tak terurus ..
Tak menunggu lama .. ku raih vas itu .. dan ku lempar dengan tsunami hati yang tak terbendung ..
PRRAAAAANGGGG...!!
Vas terbentur tivi layar datar yang belum lunas kreditnya ..
Kau keluar dengan wajah tak percaya .. merah padam ..
'Ada apa?' kau bertanya dengan sedikit nada tak biasa ..
Nafas ku masih tersengal ..
Ketika ku menjawab, 'MAAF .. tivi mu rusak'
'Apa kau mengenal kata itu? -maaf-?'
Kali ini, kau tak mampu menjawab ..
Aku hanya menatapmu. Diam.
Entah apa yang terjadi sebelum aku datang.
Ada gelas pecah di bawah meja ..
Ada makanan tumpah di sofa ..
Ada bingkai foto yang miring dari posisi semula ..
'Aku tahu aku mungkin sedikit kelewatan. Sedikit egois. Tapi aku punya alasan ..' kau kembali berargumen.
Aku berjalan ke arah bingkai foto yang miring .. foto kami .. saat ulang tahun ku tahun kemarin.
Tak berniat ku benarkan posisinya .. Mungkin kemiringan ini bisa meluruskan cara pandang mu ..
'Aku banyak pekerjaan, Sayang .. Dari dulu kau tahu pekerjaan ku dan kau bisa memaklumi kan?'
Seperti kau memaksaku setuju ..
Ku langkahkan kaki ku menuju wastafel .. cuci tangan .. dan ku basuh wajah kusam ku ..
'Kau sudah makan?'
Aku hanya menggeleng.
'Rendangnya gosong ketika ku hangatkan,' kau menunjuk wajan kecil yang berisi irisan daging hitam pekat.
'Mie instan terakhir yang tersisa sudah ku makan,'
Aku masih diam sambil membereskan ruang kecil yang bagai medan perang itu.
Hening mengisi sesak .. Detak jarum jam semakin keras terdengar ..
Kau memilih bermain asap .. Tembakau di jari mu masih separuh ..
Biasanya ini akan bertahan lama .. sepuluh menit .. lima belas .. dua puluh .. setengah jam ..
'Kau masih marah?' keheningan pecah oleh suara serak mu.
Aku tak sanggup menjawab .. ada yang menekan dadaku begitu keras ..
'Sudah ku jelaskan semua, Sayang .. dan aku jujur,'
Aku masih diam.
'Oke .. kalau kamu sudah mau bicara, kamu tahu di mana bisa menemui ku,'
Kau beranjak ke kamar. Menutup pintu perlahan.
Benar - benar hening sekarang.
Jam dinding pun seperti kehabisan baterainya ..
Ku tutup mata .. meresapi kelam hitam dan kesabaran yang tinggal sehelai rambut saja ..
Kilatan peristiwa menari ..
Segala diam ku .. segala kecewaku .. tertata rapi seperti perpustakaan besar berisi tiap lembar peristiwa ..
Perlahan ku buka mata .. yang pertama ku lihat adalah vas bunga ..
Berisi bunga kering yang tak terurus ..
Tak menunggu lama .. ku raih vas itu .. dan ku lempar dengan tsunami hati yang tak terbendung ..
PRRAAAAANGGGG...!!
Vas terbentur tivi layar datar yang belum lunas kreditnya ..
Kau keluar dengan wajah tak percaya .. merah padam ..
'Ada apa?' kau bertanya dengan sedikit nada tak biasa ..
Nafas ku masih tersengal ..
Ketika ku menjawab, 'MAAF .. tivi mu rusak'
'Apa kau mengenal kata itu? -maaf-?'
Kali ini, kau tak mampu menjawab ..
Menunggu Mu..
Senin, 31 Mei 2010
Apa kau menyadari .. Aku menunggu mu ..
Menunggu itu menyiksa .. Tapi aku menunggu mu ..
Telah sejak tanah mengering hingga kini kembali menggenang hujan ..
Tak lagi ku hitung berapa hari yang terlewatkan ..
Tapi pasti ribuan detik telah mampu membawaku ke bulan ..
Apa kau menyadari .. Aku menunggu mu ..
Ku habiskan sisa malam menemanimu termenung ..
Ku cari sisa hati yang kini kau gantung ..
Tapi semua sepi .. sunyi .. dan kau terus mematung ..
Belum jelaskah pesan yang ku titip untuk mu ..
Ada yang salah .. ada yang pecah .. kita harus bertemu ..
Belum mengertikah engkau pada galau yang ku seru ..
Aku gelisah .. aku resah .. kita harus bertemu ..
Kau hanya memberi ku senyum .. menggenggam tangan ku dan mengecupnya ..
Berlalu pergi tanpa kata .. Kembali aku harus menahan rasa ..
Apa kau menyadari .. Aku menunggu mu ..
Menunggu itu menyiksa .. Tapi aku menunggu mu ..
Menunggu itu menyiksa .. Tapi aku menunggu mu ..
Telah sejak tanah mengering hingga kini kembali menggenang hujan ..
Tak lagi ku hitung berapa hari yang terlewatkan ..
Tapi pasti ribuan detik telah mampu membawaku ke bulan ..
Apa kau menyadari .. Aku menunggu mu ..
Ku habiskan sisa malam menemanimu termenung ..
Ku cari sisa hati yang kini kau gantung ..
Tapi semua sepi .. sunyi .. dan kau terus mematung ..
Belum jelaskah pesan yang ku titip untuk mu ..
Ada yang salah .. ada yang pecah .. kita harus bertemu ..
Belum mengertikah engkau pada galau yang ku seru ..
Aku gelisah .. aku resah .. kita harus bertemu ..
Kau hanya memberi ku senyum .. menggenggam tangan ku dan mengecupnya ..
Berlalu pergi tanpa kata .. Kembali aku harus menahan rasa ..
Apa kau menyadari .. Aku menunggu mu ..
Menunggu itu menyiksa .. Tapi aku menunggu mu ..
-31 Mei 2010- 23:25
Untuk Mu
Telah ku ukir dalam prasasti, hingga kelak semesta tahu..
Betapa indah debur suara hati yg kini bertalu..
Tak perlu takut berlari jauh, karna jejakmu akan terukir abadi..
Ku titip pada aurora langit utara ..
Biar dia menggurat senyummu pada dunia..
Kau yang terlalu melekat erat di hati ku ..
Tidurlah dalam buaian biru nan syahdu..
Ku simak alun nada rindu ..
Untuk mu..
Betapa indah debur suara hati yg kini bertalu..
Tak perlu takut berlari jauh, karna jejakmu akan terukir abadi..
Ku titip pada aurora langit utara ..
Biar dia menggurat senyummu pada dunia..
Kau yang terlalu melekat erat di hati ku ..
Tidurlah dalam buaian biru nan syahdu..
Ku simak alun nada rindu ..
Untuk mu..
-31 Mei 2010-
Suatu sore, dipaksa berpikir cepat untuk membalas comment mas JP di FB.
Jadilah retetan kata ini kurang dari 5 menit. Lalu klik tombol 'comment'
Malamnya, saya di add beberapa orang yang mutual friends dengan mas JP.
Ha ha .. mungkin mereka kira aku 'ada apa-apa' dengan mas JP.
Padahal hanya berbalas comment saja. :)
Kerinduan
Rabu, 26 Mei 2010
Tak ada jingga, tak ada senja
Hanya ada biru yang makin mendayu
Bermain dalam irama denting hati,
Langkah kecil ini berubah jadi lari
Keindahan dan kerinduan
Berkedip kedip, berkelip kelip
Bagai bintang dalam pekat
Berteman bimbang dalam penat
Kerinduan dan kerinduan
Hanya ada biru yang makin mendayu
Bermain dalam irama denting hati,
Langkah kecil ini berubah jadi lari
Keindahan dan kerinduan
Berkedip kedip, berkelip kelip
Bagai bintang dalam pekat
Berteman bimbang dalam penat
Kerinduan dan kerinduan
-Oktober 2006-
Sekeping Cinta
Bolehkah aku bermimpi..
Menjadi sekeping cinta yang hanyut di samudra..
Biarlah aku tenggelam atau menjadi mangsa..
-Feb ’07-
Bicara Dengan Mu
Bicara dengan mu ..
Ternyata lebih sulit dari sekedar bicara dengan orang bisu..
Bahasa tubuh pun tak mampu kau tangkap utuh..
Hanya sekedar melempar pandang dan berpaling muka..
Aku gemas! Aku cemas!
Bicara dengan mu..
Ternyata lebih sulit dari sekedar mengartikan pesan dari angkasa..
Hingga jarak dan waktu bukan lagi alasan..
Dan wajahmu tetap berpaling namun tanganmu menggenggam erat..
Aku jengah! Aku marah!
Telah ku gempur dinding itu.. Bicaralah..
Telah ku terjang badai itu.. Bicaralah..
Telah ku lawan takut itu.. Bicaralah.. Bicaralah!!
Atau setidaknya.. jangan palingkan wajahmu saat genggam begitu erat .. jangan palingkan wajahmu saat pandangan kita bertemu ..
Aku cemas ..
Ternyata lebih sulit dari sekedar bicara dengan orang bisu..
Bahasa tubuh pun tak mampu kau tangkap utuh..
Hanya sekedar melempar pandang dan berpaling muka..
Aku gemas! Aku cemas!
Bicara dengan mu..
Ternyata lebih sulit dari sekedar mengartikan pesan dari angkasa..
Hingga jarak dan waktu bukan lagi alasan..
Dan wajahmu tetap berpaling namun tanganmu menggenggam erat..
Aku jengah! Aku marah!
Telah ku gempur dinding itu.. Bicaralah..
Telah ku terjang badai itu.. Bicaralah..
Telah ku lawan takut itu.. Bicaralah.. Bicaralah!!
Atau setidaknya.. jangan palingkan wajahmu saat genggam begitu erat .. jangan palingkan wajahmu saat pandangan kita bertemu ..
Aku cemas ..
-malam gerimis, 25 Mei 2010-
Yang Datang Bersama Angin
kecuali kamu bisu.. aku akan mengajari mu bicara..
mengeja setiap kata, demi lengkapnya ungkap rasa
kecuali kamu buta.. aku akan biarkan mu meraba..
membayang bentuk rupa, demi tergambar dalam benak raga
kecuali kamu tuli.. aku akan tulis setiap kata..
merangkai semua aksara, demi sampainya pesan jiwa
tapi kamu tidak..
kamu sempurna
kamu kaya
kamu merdeka
tak bisu, tak tuli tak buta
maka lihatlah sendiri, rasakan sendiri..
karna untuk ku.. kamu manusia dewasa..
datanglah bersama angin
berhembus sejenak
lalu hilang tanpa jejak...
mengeja setiap kata, demi lengkapnya ungkap rasa
kecuali kamu buta.. aku akan biarkan mu meraba..
membayang bentuk rupa, demi tergambar dalam benak raga
kecuali kamu tuli.. aku akan tulis setiap kata..
merangkai semua aksara, demi sampainya pesan jiwa
tapi kamu tidak..
kamu sempurna
kamu kaya
kamu merdeka
tak bisu, tak tuli tak buta
maka lihatlah sendiri, rasakan sendiri..
karna untuk ku.. kamu manusia dewasa..
datanglah bersama angin
berhembus sejenak
lalu hilang tanpa jejak...
Pertemuan Malam itu
Tak ada yang berubah dari mu malam itu.
Tidak juga kepulan asap nikotin yang setia menemani.
Kulit mu hangat, sehangat kau berbisik, 'Sehat?'
Aku jawab, 'Iya .. Kamu?'
Senyum.
Hanya itu yang ku dapat.
Langit jadi abu-abu.
Tanpa rembulan tapi deretan awan mendung tipis membawa syahdu.
Kau tawarkan kursi kosong di samping mu.
Aku masih berdiri saja.
Mencoba mencari kornea mu.
Tapi sulit sekali bertemu.
'Aku duduk di sana saja,' aku memecah jeda kosong.
'Kenapa? Sudah tak mau menemaniku,'
Ada yang menggesek dawai biola.
Panjang. Kasar. Miris.
'Ada yang harus ku temani di meja sana,' jawab ku tegas.
'Duduklah di sini, dia tak kan apa-apa di sana sendiri', kata mu dengan santai.
'Tidak', jawab ku.
Aku beranjak menjauh.
Langit abu-abu mulai menangis.
Dingin merayap hingga ke hati. Tak dapat berhenti.
Lelaki yang menunggu ku di meja sana lalu berdiri.
Menyambutku, mengecup pipi ku dan bertanya, 'Kok telat? Kemana dulu?'
'Tadi ketemu teman di depan,' jawabku. Jujur.
'Ohh..' Dia lalu tersenyum dan mengusap lembut kepalaku yang tersiram sedikit gerimis.
Handphone ku bergetar. SMS.
Isinya,
Tidak juga kepulan asap nikotin yang setia menemani.
Kulit mu hangat, sehangat kau berbisik, 'Sehat?'
Aku jawab, 'Iya .. Kamu?'
Senyum.
Hanya itu yang ku dapat.
Langit jadi abu-abu.
Tanpa rembulan tapi deretan awan mendung tipis membawa syahdu.
Kau tawarkan kursi kosong di samping mu.
Aku masih berdiri saja.
Mencoba mencari kornea mu.
Tapi sulit sekali bertemu.
'Aku duduk di sana saja,' aku memecah jeda kosong.
'Kenapa? Sudah tak mau menemaniku,'
Ada yang menggesek dawai biola.
Panjang. Kasar. Miris.
'Ada yang harus ku temani di meja sana,' jawab ku tegas.
'Duduklah di sini, dia tak kan apa-apa di sana sendiri', kata mu dengan santai.
'Tidak', jawab ku.
Aku beranjak menjauh.
Langit abu-abu mulai menangis.
Dingin merayap hingga ke hati. Tak dapat berhenti.
Lelaki yang menunggu ku di meja sana lalu berdiri.
Menyambutku, mengecup pipi ku dan bertanya, 'Kok telat? Kemana dulu?'
'Tadi ketemu teman di depan,' jawabku. Jujur.
'Ohh..' Dia lalu tersenyum dan mengusap lembut kepalaku yang tersiram sedikit gerimis.
Handphone ku bergetar. SMS.
Isinya,
'duduklah di sini, dia tak kan apa-apa di sana sendiri. tapi tidak aku.'
Dan jantung ku beraktivitas lebih cepat.
Hanya Bila Kau ..
Semua bergulir lagi..
Seperti bianglala yang mendebarkan
Beberapa plot menyapa ku lagi..
Tentang sepasang kekasih yang akan terus membangun istana pasirnya
Walau pun ombak akan terus menerjang.
Berangkat dari tragedi dan berani berlari.
Tentang pepatah lama yang membuka mata :
“Kebahagiaan wanita tergantung pada dia mencari pasangan hidupnya”.
Aku hanya ingin berlari denganmu..
Dalam duka yang kau sebut perjuangan
Aku hanya ingin berlari denganmu.
Tak mau mendengar kanan dan kiriku
Aku tak mau berjanji atau bersumpah..
Aku hanya ingin berlari denganmu..
Hanya bila kau pun ingin berlari denganku..
-15 Januari ’07-
link for pic
Seperti bianglala yang mendebarkan
Beberapa plot menyapa ku lagi..
Berdentang-dentang di kepala, Mengayun-ayun di benak raga..
Tentang sepasang kekasih yang akan terus membangun istana pasirnya
Walau pun ombak akan terus menerjang.
Berangkat dari tragedi dan berani berlari.
Tentang pepatah lama yang membuka mata :
“Kebahagiaan wanita tergantung pada dia mencari pasangan hidupnya”.
Aku hanya ingin berlari denganmu..
Dalam suka yang kau sebut hiburan
Aku hanya ingin berlari denganmu.
Tak mau mendengar kanan dan kiriku
Aku tak mau berjanji atau bersumpah..
Aku hanya ingin berlari denganmu..
Hanya bila kau pun ingin berlari denganku..
-15 Januari ’07-
link for pic
Cepat Pulang
Kembali ku berbisik untuk kau cepat pulang..
Dalam luka saat kau melangkah pergi..
Tak apa, Sayangku..
Ku tahu ini kan baik-baik saja..
Sekawanan merpati seakan bernyanyi
Aku sudah tak punya lagu lagi..
Cepat pulang, setidaknya untuk saat ini..
Dalam luka saat kau melangkah pergi..
Tak apa, Sayangku..
Ku tahu ini kan baik-baik saja..
Sekawanan merpati seakan bernyanyi
Aku sudah tak punya lagu lagi..
Cepat pulang, setidaknya untuk saat ini..
Kepada Yang Tercinta .. Si Jahat
Minggu, 09 Mei 2010

Ini bukan tentang kamu (lagi), Jahat!
Ini tentang kebandelan hati yang tak mau berhenti..
tentang skenario mimpi yang tak terpatuhi..
tentang deret-deret rindu yang terus bernyanyi..
Ini bukan tentang kamu (lagi), Jahat!
Ini tentang kisah - kisah baru yang mencitra diri ..
tentang transitnya rasa untuk kemudian pergi..
tentang gores - gores halus yang meluka hati..
Ini bukan tentang kamu (lagi), Jahat!
Ini tentang aku ..
Menari - nari, ketawa - ketiwi..
Kemudian jatuh, Menghujam bumi ..
Ini tentang kebandelan hati yang tak mau berhenti..
tentang skenario mimpi yang tak terpatuhi..
tentang deret-deret rindu yang terus bernyanyi..
Ini bukan tentang kamu (lagi), Jahat!
Ini tentang kisah - kisah baru yang mencitra diri ..
tentang transitnya rasa untuk kemudian pergi..
tentang gores - gores halus yang meluka hati..
Ini bukan tentang kamu (lagi), Jahat!
Ini tentang aku ..
Menari - nari, ketawa - ketiwi..
Kemudian jatuh, Menghujam bumi ..
-Dalam perjalanan ke Jawa Tengah, 20 Juli 09-
Aku Pamit Pulang..
Aku pamit pulang ..Bukan untuk istirahat atau sekedar mandi..
Bukan juga untuk tidur..
Aku pulang, untuk bermain..
Bermain lagi dengan tinta-tinta hitam kemenangan..
Tinta-tinta yang menjelma kunci-kunci penjara..
Tinta-tinta yang menggambar sayap di punggung..
Tinta-tinta yang melebur topeng..
-topeng, gaun, sepatu, giwang, kalung, gelang, gelar, dan gelak..
Ini hingar bingar .. barbar..
Aku pusing.. aku muntah.. aku pengap..
Aku ingin pulang .. Aku pamit pulang..
Ingin bermain dengan tinta - tinta ..
Bergurat -gurat bersama malam ..
Berbaris - baris tak ingat tepi ..
Aku pulang ..
Ingin bermain dengan tinta -tinta
-Selepas Sahur, 13 Sept 09-
Langganan:
Postingan (Atom)






